Terjemahan Bahasa

Kamis, 26 April 2012

HATI YANG WASPADA

MATIUS 25:1-13
LUKAS 21:36
“Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa.”
Ketika sepeda motor saya hilang, saya sangat menyesal bahwa saya tidak berhati-hati. Berbicara tentang hal rohani, Tuhan Yesus Kristus memerintahkan kita untuk berhati-hati, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Mat. 26:41). “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat. 25:13). “Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satupun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku” (Why. 3:2).
Istilah bahasa Yunani untuk “hati-hati” dan “waspada” is grégoreuó, yang arti harafiahnya adalah bertahan tidak tidur. Dalam makna moral dan rohani, “itu menunjukkan satu kesadaran akan bahaya yang mengancam, dengan kesadaran penuh dan pikiran yang waspada, berusaha untuk tidak mengantuk, kurang iman maupun tingkah laku (Mat. 26:41). Ini menunjukkan kehati-hatian yang diperlukan untuk menghadapi rasa cemas yang diakibatkan rasa takut kehilangan keselamatan, kekuatiran atas keselamatan seseorang (Why. 3:2; 16:15). Ini berarti waspada dan berdoa menantikan saatnya Anak Manusia datang kembali. Kewaspadaan menunjukkan bahwa orang Kristen itu siaga untuk mempertahankan diri terhadap musuh rohani. Dia telah dipersiapkan dengan baik untuk segala perubahan mendadak dalam keadaannya, dan di atas segala sesuatu, agar persekutuannya dengan Allah di dalam doa tidak terganggu dan efektif”(Dr. Zodhiates).
Iblis menggunakan daya tarik atau godaan duniawi, dan juga rasa puas diri dan rasa percaya diri kita untuk mengaburkan mata kita. Sangat penting bagi kita untuk siaga dan waspada sehingga kita tidak jatuh dalam perangkap dan jerat Iblis, sehingga kita jangan sampai ditarik menjauh dari Allah dan Firman-Nya, jangan sampai kita kehilangan pahala kita, dan jangan sampai kita malu ketika Tuhan Yesus Kristus datang kembali.

HATI YANG PENUH HARAPAN

MAZMUR 71:1-16
1 TIMOTIUS 1:1

“Kristus Yesus, dasar pengharapan kita.”

Banyak orang yang merasa hidupnya tidak berarti lagi ketika apa yang mereka harapkan sudah tidak ada, atau pun orang yang mereka kasihi telah tiada. Sangat menyedihkan bahwa banyak orang yang akhirnya menjadi depresi dan putus asa. Banyak orang yang begitu berduka karena kehilangan orang yang mereka kasihi dan merasa “tidak mempunyai pengharapan” (1Tes. 4:13). Bagaimana dengan kita? Apa yang kita harapkan? Untuk siapakah kita hidup? Apakah kita berharap dan hidup bagi Allah dan Firman-Nya? “Dan sekarang, apakah yang kunanti-nantikan, ya Tuhan? Kepada-Mulah aku berharap” (Mzm. 39:7) dan “Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH” (Mzm. 71:5), dan “Aku menanti-nantikan TUHAN, jiwaku menanti-nanti, dan aku mengharapkan firman-Nya” (Mzm. 130:5). Puji Tuhan! Apa pun yang terjadi pada kita, kita bisa memiliki damai dan diberkati sebab kita percaya dan berharap pada Allah kita, Tuhan yang mahakuasa dan berdaulat, serta Firman-Nya. “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN” (Yer. 17:7).
Istilah Ibrani untuk “harapan” adalah tiqvah, kata ini muncul sebanyak 34 kali. Istilah Yunani untuk “harapan” adalah elpis, kata ini muncul sebanyak 54 kali. Untuk memiliki hati yang penuh harapan kepada Allah dan Firman-Nya, kita harus menjadi anak Allah, sebab jika tidak, maka kita “tanpa Kristus… tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Ef. 2:12). Pertama-tama kita tidak boleh berharap kepada diri kita sendiri dan natur kita yang berdosa. Kita harus mengakui bahwa kita tersesat, dan kita tidak pernah bisa mengubah hati kita sendiri, tidak juga dengan perbuatan baik atau ritual keagamaan. Kemudian, kita harus datang dengan rendah hati kepada Tuhan Yesus Kristus dalam pertobatan, berseru memohon keselamatan, penebusan, dan pembebasan-Nya, dan mengundang Dia untuk memerintah di dalam hati kita sebagai Raja dan Tuhan kita. “…Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan” (Kol. 1:27). Tuhan akan memenuhi kita dengan pengharapannya yang hidup dengan kuasa Roh Kudus. “Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Rm. 15:13). Kemudian, kita bisa berharap kepada Tuhan dalam segala hal.

MEMILIKI HATI TUHAN

ROMA 8:28-39
1 YOHANES 3:2

“…kita akan menjadi sama seperti Dia…”
Roh Kudus berdiam di dalam kita bukanlah untuk memberi kita kuasa untuk menjadi seorang yang istimewa, melainkan agar kita menjadi orang Kristen yang menyerupai Kristus. Tuhan Yesus Kristus juga dipenuh Roh Kudus yang sama, para rasul-Nya dan anak-anak-Nya juga dipenuhi Roh Kudus yang sama, dan kita diperintahkan untuk terus-menerus “dipenuhi Roh Kudus”. Kita tidak bisa mengharapkan hal yang berbeda dari Roh Kudus yang sama, yang telah bekerja dalam hati dan hidup Tuhan Yesus, para rasul-Nya, dan anak-anak-Nya sebagaimana yang tercatat dalam kitab suci. Tuhan Yesus tidak pernah melakukan mujizat untuk dipertontonkan. Dia hanya mencari kehendak Bapa-Nya dan Dia menaati Bapa-Nya hingga mati tanpa kompromi, keraguan, pertanyaan, sungut-sungut, atau pun pemberontakan.
Roh Kudus disebut “Roh Yesus Kristus” (Flp. 1:19), “Roh Kristus” (Rm. 8:9; 1Pet. 1:11), “Roh Anak-Nya” (Gal. 4:6). Jika kita dipenuhi Roh Kudus, kita harus menjadi seperti Kristus dan memiliki hati yang menyerupai hati Tuhan Yesus. Sesungguhnya, kita dalam proses pengudusan oleh Roh Kudus untuk “menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya” (Rm. 8:29) dan ketika Tuhan Yesus datang kembali, “kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.” (1Yoh. 3:2). Kemudian, kita harus mengarahkan mata kita kepada Juruselamat kita Yesus Kristus, teladan kita yang sempurna, dan dengan iman, ketergantungan, dan ketaatan yang rendah hati, maka Roh Kudus akan mengubahkan kita hari demi hari menjadi semakin menyerupai Kristus, iman-Nya yang tak tergoyahkan dan harapannya kepada Allah dan Firman-Nya, ketaatan-Nya yang berani kepada kehendak Bapa-Nya hingga mati tanpa kompromi, tujuan dan motivasinya untuk memuliakan Bapa-Nya saja, kekudusan, kesalehan, kebenaran, keteguhan, kewaspadaan, dan hati-Nya yang selalu berdoa, pelayanan-Nya yang rendah hati, hikmat, kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri.
Apakah kita sungguh-sungguh ingin menyerupai Kristus? Hanya Roh Kudus yang bisa menjadikan kita menyerupai Kristus. Apakah kita selalu tunduk kepada kendali Roh Kudus dan Firman-Nya? atau tidak? kita masing-masing menjawabnya.