Terjemahan Bahasa

Kamis, 26 April 2012

HATI YANG SENANTIASA BERDOA

ROMA 8:17-29
KOLOSE 1:3-4
“…imanmu di dalam Kristus.”


Banyak orang yang hanya berdoa kepada Allah setelah mereka menghadapi bahaya besar, sakit parah, atau bencana mendadak dalam kehidupan mereka. Setelah dikecewakan oleh diri sendiri dan orang lain, upaya terakhir mereka adalah berseru kepada “allah” mana saja yang bisa menolong mereka yang sedang putus asa dan tidak berdaya. Sayangnya, banyak orang yang tidak peduli akan keselamatan jiwa mereka. Firman Tuhan menegaskan bahwa tidak ada keselamatan di luar Juruselamat Yesus Kristus (Kis. 4:12).
Sebagian orang Kristen yang lemah dan terlalu malas untuk berdoa, mengatakan bahwa Allah yang mahatahu tentu mengetahui kebutuhan mereka, dan karena itu sudah cukup kalau mereka percaya kepada Tuhan dan hanya berdoa kepada Tuhan jika mereka memiliki masalah besar saja. Apakah mereka benar? Hanya Allah yang benar. Mereka salah. Kita berdoa itu bukan hanya untuk memohon keperluan kita kepada Tuhan. Doa adalah suatu sarana untuk membuat kita tetap berhubungan dengan Allah, yang merupakan hidup dan kekuatan kita. Doa adalah nafas rohani kita. Tak seorang pun yang bisa hidup kalau tidak bernafas. Selain berdoa di pagi hari, sebelum makan, dan malam sebelum tidur, kita juga diperintahkan untuk selalu ada dalam sikap berdoa di dalam hati di mana pun kita berada. “Tetaplah (terus-menerus) berdoa” (1Tes. 5:17) berarti memiliki hati yang senantiasa berdoa. Apakah kita memiliki hati yang senantiasa berdoa? Jika kita lemah atau terlalu malas untuk berdoa, itu berarti bahwa kita belum dipenuhi Roh Kudus.
Kita hanya bisa menghasilkan buah Roh Kudus jika kita terus-menerus bersandar, bergantung, dan tunduk kepada Tuhan dan Firman-Nya dari waktu ke waktu, seperti suatu ranting yang melekat pada pokok anggur. Roh Kudus adalah “roh pengasihan dan roh permohonan” (Za. 12:10), dan dia bisa menolong kita dan menjaga hati kita selaras dengan Tuhan. “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Rm. 8:26). Roh Kudus bisa terus-menerus mempertahankan persekutuan kita dengan Tuhan tanpa henti, dan dengan hati yang senantiasa berdoa.

HATI YANG SALEH

IBRANI 12:18-29
YESAYA 11:2

“…roh pengenalan dan takut akan TUHAN.”

Kita hidup di dunia yang berdosa ini, dan banyak orang yang hanya menikmati hidup mereka dan melakukan apa yang mereka sukai tanpa mempedulikan Allah dan Firman-Nya. Mereka tidak peduli apakah Allah itu ada. Mereka mendukakan hati Tuhan, menghujat nama Allah. Suatu hari, mereka harus mempertanggungjawabkan apa yang telah mereka perbuat. Banyak orang yang menyangkal keberadaan Allah dan bahkan secara terang-terangan menyatakan kebencian mereka kepada Allah, Nama Allah, dan Firman-Nya dengan kata-kata, tulisan yang menghujat. Sungguh, “rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu” (Rm. 3:18, band. Mzm. 36:1). Orang-orang fasik yang gagal untuk takut akan Tuhan, beribadah kepada-Nya, percaya kepada-Nya, dan hidup kudus sesuai Firman Tuhan akan dihukum dan dikutuk. “Tetapi oleh firman itu juga langit dan bumi yang sekarang terpelihara dari api dan disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik” (2Pet. 3:7).
Kita haruslah memiliki hati yang saleh! Hati yang saleh adalah hati yang takut akan Tuhan, dan sungguh “ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1Tim. 6:6). “Ibadah” dalam bahasa Yunani adalah eusebeia, kata ini muncul lima belas kali. Eusebeia berarti “pengabdian, kesalehan terhadap Allah… secara harafiah berarti hormat kepada Allah… Menunjukkan sikap yang baik dan hormat kepada Allah ketika berbicara tentang orang Kristen, adalah sikap yang tepat untuk menghormati Allah… Ini menunjukkan suatu kehidupan yang bisa diterima Kristus, menandakan sikap yang benar dari seorang percaya kepada Kristus yang telah menyelamatkan dia“ (Dr. Zodhiates). Ini adalah “kesalehan, hormat, loyatitas, takut akan Tuhan… iman yang saleh… perbuatan saleh…” (BAGD). Jika kita memiliki hati yang saleh, kita akan takut akan Tuhan, beribadah kepada-Nya, percaya kepada-Nya, dan menjalani hidup kudus menurut Firman-Nya.
Roh Kudus adalah “…roh pengenalan dan takut akan TUHAN” (Yes. 11:2), dan Dia bisa menolong kita untuk mengenal Allah dan takut akan Dia. Semakin kita mengenal Allah, semakin kita akan takut akan Dia.

HATI YANG MERASA PUAS

FILIPI 4:10-23
1 TIMOTIUS 6:6
“Ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar.”
Banyak orang di dunia ini yang tidak puas dengan apa yang mereka miliki. Mereka menginginkan lebih banyak uang, harta milik, kekayaan, kehidupan yang lebih modern dan mewah, lebih banyak kesenangan dan hiburan, dan lain-lain, sehingga mereka bisa menikmati hidup mereka! Mereka menipu diri mereka sendiri dengan berpikir bahwa kekayaan materi akan memberikan mereka kebahagiaan, hidup yang berarti dan memuaskan. Iblis tahu umpan apa yang cocok untuk berbagai jenis orang. Jika dia tidak dapat mengancam atau menghalangi mereka lewat penganiayaan atau pencobaan, dia akan memakai hal-hal dari dunia ini, “kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan” (Mat. 13:22), dan “keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup” (1Yoh. 2:16), hal-hal ini menyumbat Firman Tuhan dan kehidupan rohani mereka agar menarik banyak orang menjauh dari Allah dan Firman-Nya. Mereka menghabiskan terlalu banyak waktu dan energi untuk mengejar apa yang mereka cintai sehingga mereka tidak punya waktu bagi Tuhan, untuk bersaat teduh, menyelidiki Alkitab, atau untuk beribadah! Sungguh mengecewakan, akhirnya, mereka menyadari bahwa tidak ada sesuatu atau seseorang di dunia ini yang bisa membuat hati mereka bahagia atau puas untuk jangka panjang.
Akan tetapi “ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar” (1Tim 6:6). “Rasa cukup” dalam bahasa Yunani adalah autarkeia, Kata ini muncul dua kali. Alkitab King James menerjemahkannya sebagai “rasa cukup” satu kali, dan “rasa puas” satu kali. “Merasa cukup disebut juga rasa puas, akan kebutuhan hidup (2Kor. 9:8; 1Tim. 6:6)” (Dr. Zodhiates). Jika kita memiliki hati yang merasa cukup, kita akan puas dengan apa yang Allah telah berikan kepada kita dan kita akan memiliki hati yang bersyukur dan tidak akan bersungut-sungut atau mengeluh. “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah” (1Tim. 6:8). Rasul Paulus yang dipenuhi dengan Roh Kudus, menulis, “Aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Flp. 4:11-13). Apakah kita belajar untuk selalu merasa cukup?